Bolang si Sambar Nyawa

     Bagi penduduk desa Menara Jati dan sekitarnya yang jauh dari pusat kota, nama Bang Bolang sudah tak asing lagi. Sebab nama Bolang merupakan momok bagi masyarakat di sana. Bolang yang memiliki ilmu silat yang tinggi serta sempurna. Ditambah lagi dengan ilmu kebal yang dimilikinya ia berbuat sekehendak hatinya. Segala ucapan yang keluar dari mulutnya, merupakan perintah yang tak boleh dilanggar. Dan apabila ada yang coba-coba melanggar perintah Bang Bolang, sama saja dengan mengantarkan nyawa dengan suka rela.
     Puluhan kaki tangannya bertebaran di desa Menara Jati dan desa-desa sekitarnya. Mereka menyamar sebagai pedagang untuk dapat berbaur dengan masyarakat yang sedang berada di pasar kalau-kalau mereka bercerita buruk tentang majikan mereka, Bang Bolang yang gagah. Sementara itu kaki tangan Bolang yang menjadi petani akan memasang kuping tajam-tajam, jangan sampai ada pembicaraan di kalangan kuli-sawah itu yang menjelek-jelekkan nama Bolang. Kalaupun ada yang berani untuk berbisik-bisik tentang sepak terjang Bolang, maka tak salah lagi jika alamat buruk pasti menimpanya.
     Tindakan yang sering dilakukan Bolang dan anak-anak buahnya bukan tak diketahui oleh Pak Somad yang menjadi Lurah sejak beberapa tahun yang lalu di desa Menara Jati. Tetapi apa hendak dikata? Pak Somad yang sudah setengah tua itu tak dapat berkutik oleh ancaman-ancaman yang ditujukan kepadanya oleh Bolang. Apalagi Pak Somad tidak memiliki sedikitpun kepandaian silat yang mungkin saja dapat diandalkan untuk merobohkan Bolang. Maka daripada menanggung risiko yang lebih parah, baik bagi keluarganya maupun terhadap dirinya sendiri, mau tak mau sang kepala desa yang setengah tua itu menutup mata saja atas segala tindak kriminal yang dilakukan Bolang di wilayah desa kekuasaannya.
     Jalan lain bukan tak pernah ditempuh oleh Pak Somad dalam usahanya menumpas "gerombolan" Bolang dan kawan-kawannya ini. Pernah pada suatu kesempatan ketika ia menghadiri rapat di keresidenan, masalah Bolang ini sempat dilaporkannya kepada manteri polisi yang kebetulan hadir dalam rapat itu. Tetapi sebelum laporan yang diterima dari Lurah Somad diteruskan oleh manteri polisi tadi ke kantor kores kepolisian terdekat, masyarakat tiba-tiba saja digegerkan oleh berita ditemukannya mayat pak manteri polisi di sebuah kebun tebu tak jauh dari kantor keresidenan. Agaknya di antara peserta rapat yang diadakan di kantor keresidenan tadi terdapat seorang kaki tangan Bolang yang mengetahui perbuatan lurah Somad melaporkan adanya pasukan Bolang di desa kekuasaannya. Dan pak manteri polisi yang berjanji akan meneruskan laporan lurah ke kantor kores kepolisian setempat telah dihadang terlebih dahulu oleh kaki tangan Bolang, sehingga rencana itu berantakan dan berakhir dengan kematian sang manteri polisi yang malang.
     Lurah Somad pun tak luput dari "garapan" gerombolan Bolang. Tetapi agaknya nasib baik masih melindungi Pak Somad. Bolang tak sampai mencabut nyawanya tetapi sebagai gantinya mata kiri Pak Somad buta akibat sodokan jari Bolang yang konon keras bagai besi. Sejak peristiwa itu Lurah Somad terpaksa hanya menarik napas panjang saja setiap menerima laporan dari warga desanya bahwa ia telah dirampok atau dianiaya oleh anak buah Bolang. Sebab menindak salah seorang anak buah Bolang yang merampok sama saja artinya dengan menantang Bolang.
    Begitulah keadaan desa Menara Jati selama beberapa tahun. Tak seorang pun yang berani coba-coba menjadi pahlawan untuk menumpas Bolang dan kawan-kawannya yang kian hari semakin merajalela. Julukan yang kini disandang oleh Bolang adalah "Bolang si Sambar Nyawa". Dan julukan itu memang bukan kosong belaka, sebab Bolang tak membedakan antara pohon kayu dan leher manusia yang dibencinya. Setiap ia merasa dihalangi dalam setiap tindakannya, maka golok yang setiap saat selalu bertengger di pinggangnya tak segan-segan membabat hingga putus kepala musuhnya.
     Tindakan jahat komplotan Bolang yang merajalela di Menara Jati dan desa-desa sekitamya memang sudah terlewat batas dan tak berperikemanusiaan lagi. Mereka memporak-porandakan rumah mangsanya tanpa pandang bulu bila ada informasi yang masuk bahwa seorang penduduk baru saja menjual hasil panennya, atau baru saja menjual temak mereka. Petugas keamanan desa tak ubahnya laksana tonggak-tonggak mati yang tak berdaya berbuat apa-apa atas gerombolan Bolang itu.
    Segala macam jenis senjata tajam tak berarti bagi kulit Bolang. Sedangkan peluru pun tak mampu menembus kulitnya. Hal ini pernah didemonstrasikan Bolang sendiri pada suatu sore di sebuah tanah lapang. Seorang anak buah Bolang disuruh menembak dada dan punggung Bolang dengan senapan yang dimiliki komplotannya. Suara dar... dar...do... yang berasal dari moncong senjata panjang itu tak satu pun yang menembus kulit Bolang. Timah-timah panas tadi tampak jelas di mata penduduk desa Menara Jati, jatuh satu per satu di tanah tepat di kaki Bolang. Sementara itu Bolang hanya tertawa saja memandangi peluru-peluru itu. "Apa kalian kira ini peluru mainan  hah..!!! Kalau tak percaya coba kemarikan kambingmu itu", kata Bolang sambil menunjuk kepada seorang bocah angon yang membawa beberapa ekor kambing gembalaannya sambil menonton demonstrasi Bolang. Meskipun dengan suara yang sendu dan tangis yang pilu, si bocah angon mempertahankan kambingnya agar tidak ditembak, tetapi tanpa ragu-ragu salah seorang anak buah Bolang menyeret seekor kambing ke tengah lapangan. Dan tak lama kemudian kambing yang malang itu sudah tergeletak di tanah tanpa nyawa, ditembus peluru yang berasal dari senjata yang kini dipegang oleh Bolang. "Nah... siapa lagi yang masih mengira bahwa ini senjata mainan anak-anak? Kalau mau coba silakan, akan kubuat ia melingkar di tanah seperti kambing itu", kata Bolang sambil tertawa mengakak meninggalkan lapangan. Baru beberapa langkah Bolang melangkah seorang anak buahnya melemparkan golok ke arah Bolang tetapi golok itu tak berhasil juga melukai kulitnya. Bahkan sebaliknya si pelempar golok tadi terjerit sekeras-kerasnya ketika Bolang membabat sebelah kakinya hingga buntung.
     Sementara si anak buah yang dibabat kakinya itu terlolong-lolong kesakitan, Bolang dengan gaya yang acuh tak acuh melemparkan setumpuk uang, " Nih untuk bayar dokter, jangan lupa kalau sudah sembuh cepat datang ke rumahku, mengerti..!" Setelah itu ia pun berlalu dengan iringan mata yang heran serta dendam yang membara dari penduduk desa Menara Jati. Tetapi apa yang dapat mereka lakukan? Sebab demonstrasi yang diperagakan oleh Bolang telah membuat keyakinan yang lebih mendalam di hati penduduk desa itu, bahwasanya Bolang tak mungkin dapat ditundukkan oleh siapa pun. Hingga detik ini belum ada yang berhasil membuka tabir rahasia tentang kehebatan ilmu yang dimiliki oleh Bolang, dan azimat apa gerangan yang dipakainya untuk menahan tajamnya golok serta tahan tembus peluru. Dan Bolang tak pernah menyangka bahwa di antara anak buahnya yang telah dianggapnya setia ternyata ada juga di antaranya yang berusaha untuk mengetahui rahasia kekebalan Bolang. Segala ikhtiar telah mereka lakukan untuk mencapai maksud ini, tetapi semua dukun yang dihu¬bungi dan dimintakan pertolongan, selalu mengatakan,"Wah ... ilmunya terlalu tinggi, aku tak mampu melawannya. Jarang orang yang kuat memegang ilmu yang dimiliki oleh Bolang". Sehingga mereka tak berani lagi coba-coba mengkhianati majikannya yang menurut beberapa dukun tadi mempunyai ilmu yang sangat tinggi. Bahkan kini sebaliknya, mereka semakin sewenang-wenang dalam melakukan tindakan kejahatan sebab di dalam benak mereka tersimpan keyakinan bahwa tak ada yang berani menghalangi apa pun yang mereka perbuat. Sebab itu berarti harus berhadapan dengan majikan mereka yang kebal dan digjaya.
     Pada suatu hari di desa Meranti Jajar diadakan pesta perkawinan antara putri Pak Carik desa dengan seorang pemuda pendatang yang konon baru pulang dari menuntut ilmu di sebuah pesantren.
     Pesta itu demikian meriahnya, dan tamu yang diundang oleh Pak Carik bukan saja dari desa Meranti Jajar saja, melainkan hampir semua kepala desa dari desa-desa tetangga. Di antara kepala desa yang diundang itu termasuk Lurah Somad, yang menjadi kepala desa Menara Jati. Selain itu aparat pemerintah sekitamya pun tak lupa turut dimintai kehadiran-nya untuk memberikan doa restu kepada mempelai, Pak Wedana, Pak Camat dan tak ketinggalan Komandan Resort Kepolisian setempat pun turut hadir di keriyaan itu.
     Letnan Satu Polisi Amran yang saat itu memimpin Kores setempat malam itu tampak hadir dengan mengenakan baju safari abu-abu. Ia datang bersama beberapa bawahannya yang juga kebetulan diundang oleh Pak Carik. Suasana pesta perkawinan putri Pak Carik pada malam itu begitu meriahnya. Tarian khas daerah setempat yang berupa tayuban serta pencak silat turut mewarnai pesta. Sesekali para undangan dibuat tertawa oleh ulah rombongan dagelan yang malam itu turut dihadirkan.

     Tiba-tiba saja segala kemeriahan serta kegembiraan pesta itu terhenti mendadak. Segerombolan orang yang berwajah kasar dengan pakaian ala warok memasuki arena pesta itu. Pak Carik yang belum mengetahui siapa tamu yang tak diundang itu tiba-tiba saja berdiri mendekati mereka. "Maaf Saudara-saudara, kalau boleh tahu siapakah sebenarnya ki sanak semua ini? Sebab saya merasa tak mengenal ki sanak semua, atau mungkin ki sanak diundang datang ke pesta perkawinan, tetapi telah salah alamat?" ujar Pak Carik dengan suara yang diramah-ramahkan tetapi jelas menahan marah karena merasa dibuat malu oleh "tamu tak diundang" ini. Apalagi di depan para undangan yang rata-rata orang terhormat dan mempunyai kedudukan.
     "Jadi kalau kami mau ikut nandak di sini apa tak boleh? Diundang atau tidak, bagi kami bukan urusanmu. Yang penting kami mau senang, apa tidak boleh?" Jawab salah seorang dari tamu tak diundang tadi dengan tangan yang memelintir kumis tebalnya. Sementara itu Pak Lurah Somad yang telah maklum siapa yang datang itu, diam-diam bangkit dari kursinya dan pergi menghilang entah ke mana, sebab ia tak mau peristiwa yang membuat matanya cacat terulang kembali.
     Para tamu yang menyaksikan adegan ini pun mulai banyak yang berkerumun di sekeliling Pak Carik dan rombongan tadi. Merasa ditantang begitu di hadapan tamu-tamunya, maka tak ayal lagi tangan Pak Carik melayang singgah ke muka si penantang.
     Suasana yang tadinya meriah oleh gelak tawa serta sindiran-sindiran menggoda kedua mempelai, kini berubah menjadi arena perkelahian massal antara rombongan tak diundang dengan undangan laki-laki yang merasa harus membantu Pak Carik .sebagai tuan rumah.
     Tiba-tiba saja terdengar teriakan menggeledek dari sebuah arah yang agak gelap oleh rimbunnya pohon jambu cangkokan.
     "Berhenti..., semuanya mundur..., biar aku yang menghadapi kecoa tua itu". Bersamaan dengan hilangnya suara menggeledek tadi di tengah-tengah tenda pesta telah berdiri sesosok tubuh tegap dengan kumis melintang. Mendadak wajah Pak Carik menjadi pucat setelah maklum siapa yang berdiri di hadapannya. Tetapi sebelum sempat ia berpikir jauh, sebuah tamparan yang sangat keras telah mendarat di pipinya hingga ia jatuh tersungkur ke tanah dan seterusnya pingsan.
     "Siapa yang mau coba-coba dengan Bolang, heh..!   Silakan maju, jangan satu-satu tetapi sekaligus semuanya saja", tantang Bolang dengan pongahnya.
     Letnan Amran segera mengambil tindakan pengamanan.
     "Nama Anda Bolang? Kenalkan saya Letnan Amran, Komandan Resort Kepolisian di daerah ini. Saya harap Anda segera menghentikan tindakan main hakim sendiri, dan saya harap Anda ikut saya ke kantor polisi", ujar Letnan Amran penuh wibawa.
     Bolang bukanlah Bolang bila ia harus mundur atau ciut dengan orang seperti Letnan Amran yang berpotongan peragawan itu.
     "Oh... kau polisi, ya? Kalau kau mau pulang ke kantormu malam-malam begini, pulanglah. Mengapa harus ajak-ajak orang lain?" jawab Bolang dengan memandang sinis serta menganggap rendah kepada Letnan Amran. Tanpa banyak tanya lagi tangan Letnan Amran segera melayang ke pipi Bolang dengan kerasnya, sebab ia merasa tersinggung serta merasa wibawanya sebagai seorang abdi hukum telah dihina dan diejek di muka umum serta masyarakat yang harus diayominya.
     Bolang yang menerima pukulan Letnan Amran, bukannya mengelak tetapi malah tertawa terpingkal-pingkal sambil terus menyodorkan wajahnya. Dan ketika Letnan Amran bermaksud mengulangi lagi pukulannya untuk kedua kalinya, tiba-tiba saja siku Bolang telah mendarat di tulang iganya sehingga ia tersungkur jatuh ke tanah. Bersamaan dengan itu Letnan Amran bangkit dan langsung mencabut pistol yang sejak tadi telah disiapkan di pinggangnya.
     Dor... dor... dor... , senjata di tangan Letnan Amran menyalak, dan moncongnya tepat diarahkan ke dada Bolang. Sebab Letnan Amran telah mengetahui siapa sebenamya Bolang. Ia telah banyak mendengar tentang tingkah laku Bolang yang meneror masyarakat selama ini. Selain itu ia masih sempat dibisiki oleh Lurah Somad yang lari menghilang tadi bahwa inilah orang yang bernama Bolang. Hingga Letnan Amran bertekad membekuknya.
     "Kalau perlu pergunakan senjatamu". Itu pesan Kolonel Iskak yang masih diingatnya. Perintah itu diterimanya saat ia mengikuti brifing di markas besar, sebelum ia menyusup ke daerah operasi Bolang dengan mengangkatnya sebagai komandan resort untuk sementara. Sebab sebenarnya Letnan Amran adalah anggota Team Anti Bandit dari pusat.
     Itulah sebabnya mengapa Letnan Amran berani mengarahkan moncong pistolnya langsung !ke dada Bolang. Suara letusan senjata api itu membuat semakin paniknya keadaan pesta Pak Carik. Pekikan dari perempuan serta tangis•anak-anak mewarnai suasana gaduh tadi. Tetapi Bolang ternyata tetap berdiri tegar di hadapan Letnan Amran.
     "Kalau perlu habiskan saja peluru di pistolmu itu", ujar Bolang sambil kembali melayangkan sebuah pukulan ke arah muka Letnan Amran mengakibatkan pistolnya terjatuh. Di saat semua orang yang berada di situ terkesima, tak terkecuali Letnan Amran sendiri, tiba-tiba Saleh yang saat itu sedang jadi mempelai, datang ke arah Bolang dengan sikap yang tenang tetapi pasti.
     "Hai Bolang.., kami tak pernah mengganggumu dan anak buahmu tetapi mengapa kau membuat kacau tempat ini? Kalau kau benar-benar jagoan lawanlah aku" ujar Saleh sambil terus mencelat menjauhi arena "pertempuran" tadi dan mengambil ancang-ancang siap tempur di halaman rumah yang tak tertutup terpal.
     Merasa ditantang, darah Bolang menjadi mendidih. Selama bertahun-tahun ia menjadi "biang kerok", belum ada seorang pun yang berani menantangnya duel, apalagi tantangan itu diajukan oleh seorang pemuda yang dianggapnya masih ingusan dan di depan anak buahnya yang kini berbaur dengan penduduk setempat menjadi penonton pertarungan satu lawan satu ini.
     Pertarungan antara Saleh dan Bolang berjalan cukup seru. Meskipun Ratih yang mempelai wanita sudah berteriak-teriak ke arah Saleh agar mundur saja, karena menurutnya .suaminya tak akan mampu menumbangkan Bolang yang tahan senjata tajam dan peluru itu. Tetapi Saleh tak peduli dengan teriakan bidadari yang baru saja menjadi istrinya. Bahkan ia merasa saat inilah ia memberikan "kado" paling istimewa bagi istrinya di pesta perkawinan mereka.
     Jurus demi jurus telah berlalu tetapi belum ada yang tahu pasti siapa di antara mereka yang akan memenangkan pertarungan itu, sebab tampaknya keduanya sama-sama tegar dan sama-sama memiliki ilmu silat yang tinggi. Bolang pun diam-diam merasa takjub kepada "pemuda ingusan" yang menjadi lawannya ini. Sebab belum pernah ia menemukan lawan yang seimbang dalam setiap pertarungan sejak ia turun gunung berguru kepada seorang dukun yang menganut ilmu hitam.
     Pada suatu saat Saleh berhasil dijatuhkan oleh Bolang, pukulan kirinya telak mengenai dada Saleh. Darah segar mengalir dari mulut Saleh. Ratih yang menyaksikan hal itu langsung pingsan. Bolang yang merasa telah menang di atas angin tertawa membahana.
     "Baru seujung kuku kepandaian silatmu bocah ingusan, sudah berani menantang aku, hah..!" katanya dan kembali suara tawanya yang menggelegar terdengar nyaring.
     Tetapi tanpa diduga, tiba-tiba saja Saleh bangkit secepat kilat dan langsung menghunjamkan "senjata"nya yang berrupa tusukan sate yang telah dipakai. Bolang yang tak menduga hal ini, tak sempat lagi menghindar dan jagoan yang ditakuti oleh penduduk itu ambruk ke bumi dengan darah yang mengalir dari lubang bekas tusukan sate yang dilancarkan Saleh tadi. Sebelum sempat menggeliat untuk membalas kembali tusukan sate di tangan Saleh beraksi dan menancap tepat di pusarnya. Dan kali ini diiringi dengan ucapan yang menye¬but asma Tuhan.
     "Asal dari tanah, kembalilah ke tanah, Allah hu Akbar...! Allah hu Akbar..! Dan kembali tusukan sate terbenam ke pusar Bolang setelah terlebih dahulu ditikamkan ke dalam tanah sebanyak tiga kali. Anak buah Bolang yang tadi tertegun menyaksikan adegan sadis itu tanpa banyak bicara lagi langsung melarikan diri. Tapi Letnan Amran yang telah siuman dari pingsannya dan menyaksikan jalannya pertarungan itu segera mengambil tindakan. Dengan memerintahkan anak buahnya serta dibantu oleh masyarakat yang hadir, mereka ramai-ramai mengepung sisa anak buah Bolang. Hingga mereka tertangkap, dan ada beberapa di antaranya yang babak-belur dihajar massa. Baru setelah itu diserahkan kepada Letnan Amran dan membawa mereka ke kantor polisi terdekat.
     Sementara itu Bolang sang jagoan yang kini tak berkutik lagi, telah membuat pemandangan yang mengerikan bagi mereka yang menyaksikannya. Dari seluruh tubuhnya bermunculan lubang-lubang bekas peluru dan bekas-bekas bacokan senjata tajam. Anehnya tak setetes pun darah yang mengalir dari lubang serta bekas bacokan itu. Yang keluar darah hanya dari luka bekas tusukan sate yang dilancarkan oleh Saleh tadi.
     "Rupanya ia menganut iimu karang dan ilmu tameng waja, " menjelaskan Saleh kepada para hadirin yang ada. Ilmu karang dan ilmu tameng waja adalah suatu ilmu yang anti akan senjata tajam serta kebal terhadap senjata apa saja yang diciptakan oleh manusia. Sedangkan mereka yang memiliki ilmu karang, walau sudah mati jasadnya tak akan hancur selamanya, kecuali ilmu yang dipegangnya itu dicabut terlebih dahulu oleh "guru" yang memberikannya. Tetapi jika ilmunya tak sempat dikeluarkan, maka rambut serta kuku dan giginya akan tetap tumbuh memanjang seperti biasa.
     Kini desa Menara Jati dan desa-desa sekitarnya sudah aman dari teror Bolang. Kewibawaan Pak Somad sebagai lurah di desa yang telah dipimpinnya selama bertahun-tahun kini tampak kembali. Dan karena jasa-jasanya yang secara tak sengaja telah menumpas habis komplotan Bolang atas daulat masyarakat desa Meranti Jajar, serta bantuan suara dari beberapa golongan yang merasa berutang budi atas kematian Bolang, Saleh yang ternyata adalah salah seorang murid dari seorang guru aliran putih di sebuah tempat terpencil, diangkat men¬jadi lurah di desa Meranti Jajar. Lalu un¬tuk mempererat hubungan antara Lurah Somad dengan Carik dari Meranti Jajar, desa itu digabung menjadi satu. Tentu saja atas persetujuan pemerintah.
     Nama kedua desa yang digabung itu lalu diubah menjadi desa Jati Jajar. Dan yang menjadi kepala desanya adalah Saleh, sedangkan Pak Somad diangkat menjadi penasihat. Pak Carik yang mertua Saleh tetap di jabatannya semula sebagai Carik abadi.

diterbitkan dalam bentuk hardcopy 
di majalah SENANG 0530, th 1982

0 komentar:

Poskan Komentar